Jumat, 12 Januari 2018


BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang Masalah
Krisis karakter,mengakibatkan bangsa Indonesia kehilangan kemampuan untuk mengerahkan potensi masyarakat guna mencapai cita-cita bersama.Krisis karakter ini seperti penyakit yang secara terus-menerus melemahkan jiwa kebangsaan,sehingga bangsa ini kehilangan kemampuan untuk tumbuh dan berkembang menjadi bangsa yang maju.Krisis karakter di Indonesia tercermin dalam banyak fenomena sosial, ekonomi, moral yang secara umum dampaknya menurunkan kualitas kehidupan masyarakat luas. Korupsi, mentalitas, konflik horizontal dengan kekerasan adalah beberapa ciri masyarakat yang mengalami krisis karakter.Semua itu terjadi karena orang-orang kehilangan beberapa karakter baik, terutama sekali moral, kejujuran, pengendalian diri, dan tanggung jawab sosial.
Keprihatinan terhadap degradasi moral dan karakter bangsa akan terus meningkat sejalan dengan mewabahnya patologi sosial dan penyalahgunaan kebebasan tanpa aturan.
 
B.     Rumusan Masalah
1.   Dari uraian di atas,maka masalah yang akan dibahas dalam penulisan makalah ini adalah:Apa pengertian karakter dan hal-hal yang berpengaruh terhadap pembentukan  karakter ?
2.   Bagaimana strategi dalam pembentukan karakter bangsa ?
3.   Bagaimana hubungan antara olahraga dan pembinaan karakter ?
C.    Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini yaitu untuk menjelaskan bahwa olahraga ternyata memiliki peranan dan manfaat yang sangat besar dalam hubungannya dengan karakter.
D.    Manfaat
Manfaat dari penulisan makalah ini yaitu:
a)      Bagi Mahasiswa
Dapat memberikan wawasan/pengetahuan tambahan tentang hubungan olahraga dan pembinaan karakter, sehingga diharapkan para mahasiswa dapat lebih berperan aktif dalam mengembangkan olahraga di Indonesia khususnya terkait tujuan untuk pembinaan karakter.
b)      Bagi Masyarakat/pembaca
Dapat dijadikan masukan dan motivasi agar masyarakat lebih aktif berpartisipasi dalam membentuk karakter generasi muda yang lebih baik melalui kegiatan olahraga yang positif.


BAB II
    PEMBAHASAN

A.    Karakter
                        Karakter atau watak merupakan perpaduan dari segala tabiat manusia yang bersifat tetap sehingga menjadi “tanda” khusus untuk membedakan antara satu orang dengan orang lainnya (Sumaryanto, 2012).Dalam bahasa Yunani,Charasein (karakter) berarti mengukir corak yang tetap dan tidak terhapuskan. Sedangkan Barnadib (1988) mengartikan watak dalam arti psikologis dan etis, yaitu menunjukkan sifat pendirian yang teguh, baik, terpuji, dan dapat dipercaya.
                        Karakter adalah nilai-nilai yang khas, baik (tahu nilai kebaikan, mau berbuat baik, nyata berkehidupan baik, dan berdampak baik terhadap lingkungan) yang terpateri dalam diri dan terejawantahkan dalam perilaku. Karakter memancar dari hasil olah pikir, olah hati, olah raga, serta olah rasa dan karsa seseorang atau sekelompok orang. Karakter merupakan ciri khas seseorang atau sekelompok orang yang mengandung nilai, kemampuan, kapasitas moral, dan ketegaran dalam menghadapi kesulitan dan tantangan (Ahmad, 2013).
                        Pembangunan karakter merupakan usaha yang sangat penting dalam mewujudkan manusia yang baik. Tujuan pembangunan karakter merupakan bagian dari tujuan pendidikan untuk membangun watak, harga diri yang kuat, jujur, terampil, sesuai dengan karakter yang sesuai dengan nilai-nilai luhur kebangsaan.Menurut motivasinya, karakter manusia dibagi menjadi :
      a) Achievement Motivation
                 Karakter manusia di mana ia selalu berusaha untuk mendapatkan prestasi yang terbaik. Ciri-cirinya adalah mengurung diri di kamar untuk selalu belajar serta kurang peka terhadap lingkungan.
      b) Popularity Motivation
                 Karakter manusia di mana ia selalu mengutamakan hubungan social, rela meninggalkan kepentingan pribadinya untuk urusan pertemanan. Cirinya adalah pada umumnya menghabiskan waktu berjam-jam demi membina hubungan sosial yang baik
      c) Power Motivation
                 Manusia dengan karakter ini cenderung bersifat pemimpin, selalu ingin lebih pandai, kuat, dan berkuasa.
       Pembentukan karakter-karakter tersebut dipengaruhi oleh factor genetic dan lingkungan. Menurut Cattel, “sepertiga kepribadian manusia dipengaruhi oleh genetik, sedangkan dua pertiga sisanya dipengaruhi oleh lingkungan. Pendapat lain tentang karakter juga dikemukakan oleh E. Fromm di mana karakter manusia dapat mengalami perubahan. Dengan demikian, watak atau karakter dapat dibentuk melalui pendidikan yang didapatkan oleh manusia melalui lingkungan dari luar dirinya.

B. Olahraga
                   Olahraga adalah bentuk perilaku gerak manusia yang spesifik.Arah dan tujuan orang berolahraga sedemikian beragam sehingga sebagai bukti bahwa olahraga itu merupakan sebuah fenomena yang relevan dengan kehidupan social olahraga juga ekspresi budaya berkarya pada manusia. Olahraga juga merupakan bagian dari budaya yang bersifat internasional, keragaman sosial budaya dan kondisi geografis yang spesifik juga menyebabkan keanekaragaman olahraga (KDI, 2000:7).
            Dalam arti sempit olahraga diidentifikasikan sebagai gerak badan. Olahraga ditilik dari asal katanya dari bahasa jawa olah yang berarti melatih diri dan rogo (raga) berarti badan. Secara luas olahraga dapat diartikan sebagai segala kegiatan atau usaha untuk mendorong, membangkitkan, mengembangkan dan membina kekuatan-kekuatan jasmaniah maupun rokhaniah pada setiap manusia. Definisi lain yang dilontarkan pada Lokakarya Nasional Pembangunan Olahraga
(Abdul Gafur, 1983:8-9)
secara eksplisit berbeda dengan pendidikan jasmani. Definisi tersebut dikembangkan penulis (Cholik Mutohir, 1992) sebagai berikut:
Olahraga adalah proses sistematik yang berupa segala kegiatan atau usaha yang dapat mendorong mengembangkan, dan membina potensi-potensi jasmaniah dan rohaniah seseorang sebagai perorangan atau anggota masyarakat dalam bentuk permainan, perlombaan/ pertandingan, dan kegiatan jasmani yang intensif untuk memperoleh rekreasi, kemenangan, dan prestasi puncak dalam rangka pembentukan manusia Indonesia seutuhnya yang berkualitas berdasarkan Pancasila.
Pengertian Olahraga (Menpora Maladi) Olahraga mencakup segala kegiatan manusia yang ditujukan untuk melaksanakan misi hidupnya dan cita-cita hidupnya, cita-cita nasional politik, sosial, ekonomi, kultural dan sebagainya.
Berdasarkan UU No.3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional (SKN), olahraga dibagi menjadi tiga pilar, yaitu Olahraga Pendidikan, Olahraga Prestasi, dan Olahraga Rekreasi.
a.   Olahraga Pendidikan (Education Sport)
Olahraga pendidikan adalah olahraga yang diselenggarakan sebagai bagian dari proses pendidikan.Proses pembinaan yang dilakukan menekankan penguasaan keterampilan dan ketangkasan berolahraga. Nilai-nilai kependidikan melalui pembekalan pengalaman yang lengkap sehingga yang terjadi adalah proses sosialisasi melalui dan ke dalam olahraga.
b.   Olahraga Rekreasi (Sport for All)
Olahraga rekreasi adalah olahraga yang dapat dilaksanakan oleh setiap orang, satuan pendidikan, perkumpulan, maupun organisasi olahraga. Kegiatan yang dilakukan menekankan pada pencapaian tujuan yang bersifat rekreatif atau manfaat dari aspek jasmaniah dan social-psikologis.
c.   Olahraga Prestasi (Competitive Sport)
Olahraga yang orientasinya pada pencapaian prestasi. Kegiatannya menitik beratkan peragaan performa dan pencapaian prestasi maksimal yang lazimnya dikelola oleh organisasi olahraga formal, baik nasional maupun internasional (KDI, 2000:10-11).

C. Olahraga dan Karakter
                        Di tengah krisis karakter khususnya generasi muda masyarakat Indonesia dewasa ini,tentu sangat dibutuhkan individu-individu yang peduli terhadap perkembangan nilai-nilai moral kemanusiaan.Untuk mewujudkan itu semua diperlukan individu yang berkarakter dan memegang teguh nilai-nilai kebangsaan. Dalam konteks inilah olahraga menjadi bagian penting sebagai sebuah instrument pembentukan nilai dan karakter bangsa.
                        Dalam dunia olahraga,perlu dikembangkan budaya sinergis berbagai unsur yang berkarakter,antara lain sinergis dari lembaga pendidikan,lembaga pemerintahan, stake-holder,dan unsur lainnya. Pilar-pilar tersebut merupakan penyangga pencapaian prestasi, kebugaran dan pendidikan anak bangsa yang berkarakter,terdiri dari pengembangan
§  Olahraga prestasi
§  Olahraga rekreasi,dan
§  Olahraga pendidikan.
       Sebagai fenomena social dan cultural, olahraga tidak bisa lepas dari ikatan moral modern yang kompleks. Penerimaan eksistensinya secara sosiologis dijamin oleh karakter olahraga yang mampu menyesuaikan diri dengan pasar, atau sebaliknya. Langkah strategis untuk pengembangan dan penanaman moral serta pembentukan karakter melalui olahraga adalah menjadikan aktivitas olahraga sebagai “icon and character building”. Hal tersebut seiring dengan perkembangan dunia yang semakin kompleks dan syarat akulturasi.Plato berpendapat bahwa pendidikan adalah alat pembentuk karakter bagi seluruh warga negara. Olahraga dalam hal ini telah banyak digunakan sebagai upaya pembentukan karakter walaupun implementasi untuk hal tersebut masih sangat perlu.

D. Pembinaan Karakter Melalui Olahraga
             Pendidikan untuk pembangunan karakter pada dasarnya mencakup pengembangan substansi, proses dan suasana atau lingkungan yang menggugah, mendorong dan memudahkan seseorang untuk mengembangkan kebiasaan baik dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaan ini tumbuh dan berkembang dengan didasari oleh kesadaran, keyakinan, kepekaan dan sikap orang yang bersangkutan. Dengan demikian, karakter bersifat inside-out, dalam arti bahwa perilaku yang berkembang menjadi kebiasaan baik ini terjadi karena adanya dorongan dari dalam, bukan karena adanya paksaan dari luar. karakter hendaknya dijalankan sebagai upaya berkelanjutan yang ditanam pada semua susbstansi, proses dan iklim pendidikan.
Pembentukan karakter olahragawan merupakan hasil interaksi dari faktor bawaan yaitu orangtua, dengan unsur-unsur dari luar yaitu peran serta guru dan pelatih olahraga, serta faktor luar yang lain. Berbagai kajian dan literatur mengungkapkan bahwa olahragawan membutuhkan karakter khusus sesuai dengan cabang olahraganya. Undang-undang No. 3 tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional menegaskan bahwa olahraga berfungsi mengembangkan kemampuan jasmani rohani dan sosial serta membentuk watak kepribadian bangsa yang bermanfaat. Dimensi non fisikal yang dikandung dalam olahraga dan pendidikan jasmani pada dasarnya dapat melahirkan berbagai kondisi kepribadian dan sikap mental positif (Menko Polkam 22 September 1997). Perkembangan nilai-nilai karakter dan keterampilan membuat keputusan etis merupakan unsur utama yang dapat diperoleh dari hasil proses olahraga (Wuest dan Buher 1995: 414-415).
Indonesia pada saat ini membutuhkan olahragawan yang memiliki mental dan kepribadian yang tangguh, penuh percaya diri, berani bertindak, dalam mengambil prakarsa, sehat, berkemampuan jasmani yang optimal, memiliki pikiran dan tindakan untuk setiap saat berjuang dalam mewujudkan prestasi olahraga yang tinggi. Siedentop (1994: 128) menjelaskan bahwa olahraga adalah panggung tempat proses pembelajaran gerak yang merupakan salah satu dimensi perilaku yang sangat penting, karena berkaitan dengan aktivitas manusia setiap hari, bersifat alamiah, nyata dan juga logis serta merangkum tidak hanya peristiwa jasmaniah semata, namun juga proses moral, mental dan sosial

E. Nilai dan Moral Dalam Olahraga
             Ada sembilan jenis karakter yang sangat penting  yang dapat dibangun melalui olahraga antara lain: kejujuran, keadilan, tanggung jawab, kedamaian, respek terhadap diri sendiri atau kepercayaan diri, rasa hormat dan kepedulian terhadap orang lain, menghormati peraturan dan kewenangan, apresiasi terhadap kebhinekaan, dan semangat kerja. Karakter ini sangat diperlukan sebagai modal dasar untuk memecahkan masalah besar yang menjadi akar dari kemunduran bangsa Indonesia selama ini yaitu korupsi, konflik horizontal yang berkepanjangan, perasaan sebagai bangsa kelas dua, semangat kerja dan semangat belajar yang  rendah. 
1. Kejujuran
             Kejujuran adalah semangat utama dari olahraga yang sangat didambakan dapat diterapkan oleh semua atlit dari semua cabang olahraga.Tanpa fair play, olahraga kehilangan nilai hakikinya.“Menang dan kalah dalam sebuah pertandingan bukanlah suatu yang penting, yang penting adalah bagaimana hasil tersebut dicapai,spirit dalam olahraga dan seni adalah  kejujuran  dan sportifitas, yang terbaik adalah bagaimana mendapatkan keikhlasan dari yang dikalahkan.Hal ini terwujud dalam tindak dan perkataan.Semua pihak percaya bahwa wasit dapat mempertaruhkan integritasnya dengan membuat keputusan yang fair.
2. Keadilan
             Keadilan ada dalam beberapa bentuk; distributif, prosedural, retributif dan kompensasi.Keadilan distributif berarti keadilan yang mencakup pembagian keuntungan dan beban secara relatif. Keadilan prosedural mencakup persepsi terhadap prosedur yang dinilai sportif atau fair dalam menentukan hasil. Keadilan retributif mencakup persepsi yang fair sehubungan dengan hukuman yang dijatuhkan bagi pelanggar hukum. Keadilan kompensasi mencakup persepsi mengenai kebaikan atau keuntungan yang diperoleh penderita atau yang diderita pada waktu sebelumnya. Seorang wasit tentunya tidak akan pilih kasih dalam mengambil suatu keputusan karena tanpa keadilan pasti akan merugikan salah satu pihak.
3.Tanggung Jawab
             Tanggung jawab merupakan nilai moral penting dalam kehidupan bermasyarakat. Tanggung jawab ini adalah pertanggungan perbuatan sendiri. Seorang atlet harus bertanggung jawab kepada timnya, pelatihnya dan kepada permainan itu sendiri. Tanggung jawab ini merupakan nilai moral terpenting dalam olahraga. Tidak mungkin ada tanggung jawab tanpa konsep amanah (kepercayaan). Dengan kata lain, amanah mendahului tanggung jawab; tegasnya amanah melahirkan tanggung jawab.
4. Kedamaian
             Kedamaian mengandung pengertian, a) tidak akan menganiaya, b) mencegah penganiayaan,c) menghilangkan penganiaan, dan d) berbuat baik. Dalam pencak silat selalu ditanamkan bahwa seorang pesilat harus bisa menciptakan kedamaian minimal pada lingkngan sekitarnya.
5. Respek Terhadap Diri Sendiri Atau Kepercayaan Diri
             Apa yang terjadi jika seorang atlet merasa kehilangan kepercayaan dirinya? Kalah sebelum bertanding mungkin akan menjadi hasil yang di dapat. Namun, bagaimana jika ada atlet mempunyai rasa percaya diri yang berlebih? Kekalahan akan membuatnya runtuh seketika.Efeknya adalah penurunan performa pada saat kompetisi. Dan karena atlet dengan rasa percaya diri yang berlebihan ini biasanya tidak pernah membayangkan kekalahan, maka pada saat harus menerima kekalahan yang muncul adalah rasa frustasi yang berlebihan.Oleh karena itulah, seorang atlet harus tetap menjaga rasa percaya dirinya (self confidence) pada titik yang optimal.

6. Rasa Hormat Dan Kepedulian Terhadap Orang Lain
             Atlet membutuhkan rasa hormat kepada orang lain, apakah teman sekelasnya, lawan bertanding, guru ataupun pelatihnya. Mereka perlu belajar tentang bagaimana pentingnya memperlakukan orang lain dengan hormat. Sikap peduli, didukung dengan fokus kepada orang lain dan membangun kesan pertama yang positif akan lebih menguatkan karisma seorang. Dalam olahraga beladiri khususnya setiap akan memulai pertandingan atau sesudahnya dituntut untuk memberikan hormat kepada lawan hal ini dimaksudkan bahwa atlet harus hormat dan peduli terhadap orang lain meskipun lawan sekalipun.
7. Menghormati Peraturan Dan Kewenangan
Atlet perlu menghormati kewenangan dan peraturan, karena tanpa kedua hal ini suatu perhimpunan tidak akan berfungsi. Setiap cabang olahraga memiliki peeraturan yang berbeda, namun peraturan tersebut tujuan utamanya adalah untuk memberikan rambu-rambu atau aturan kepada yang menjalankannya. Apabila atlet tidak mentaati peraturan justru akan merugikan dirinya maupun timnya. Misalkan saja apabila atlet melakukan pelanggaran maka aka nada tindakan yang diambil oleh wasit. Sangsi atau hukuman yang diberikan bisa merugikan diri sendiri maupun  orang lain fdalam hal ini timnya.
8. Apresiasi Terhadap Kebhinekaan
Hanya sedikit sekali bangsa di dunia yang dianugrahi kebhinekaan seperti Indonesia. Indonesia sangat bhineka dari berbagai aspek: flora, fauna, suku, adat istiadat, bahasa, agama dan sistem kepercayaan. Kebhinekaan dalam kehidupan di bumi ini adalah hal yang kodrati.Dalam olahraga berarti, substansi, sistem, dan lingkungan olahraga perlu secara sistematik mencegah tumbuhnya arogansi sosial yang didasari keyakinan agama, suku, atau golongan atau ras, mencegah berkembangnya eksklusifisme, kecenderungan bersikap diskriminatif dan pada saat yang sama menganjurkan berkembangnya inklusivisme.Olahraga dapat memberikan perhatian yang lebih besar pada upaya menemukan kesamaan di tengah-tengah perbedaan, bukan sebaliknya justru hanya membesar-besarkan perbedaan dan mengabaikan kesamaan. Tim yang kuat adalah tim yang memiliki berbagai macam kehlian, namun keanekaragaman tersebut dimaksudkan untuk mencapai tujan yang sama.
9.     Kerja Keras
Kejelasan hasrat yang dituangkan menjadi visi dan target yang bening bagaikan kristal merupakan syarat perlu bagi munculnya kerja keras. keras, keyakinan, dan fokus adalah tiga serangkai kunci menuju keberhasilan. Disini, kerja keras merupakan elemen pendukung yang berfungsi sebagai wahana aktualisasi diri bagi sang manusia pekerja. Potensi diri manusia berkembang melalui kerja keras dan proses aktualisasi
Untuk mencapai hasil yang maksimal dalam olahraga harus memiliki kerja keras dan disiplin yang tinggi. Dalam permainan sepak bola setiap pemain selalu bekerja keras untuk memasukkan bola ke gawang lawan dan mempertahankan gawangnya dari serangan lawan.Identifikasi karakter olahraga dan nilai-nilai moral yang ditanamkan dalam kehidupan sehari-hari atau dalam aktivitas olahraga.
1. Rasa hormat - Dalam Kehidupan Sehari-hari
  • Menghormati pada orang lain
  • Menghormati peralatan bermain
  • Menghormati pada lingkungan
  • Menghormati pada diri sendiri
      Dalam Aktivitas Olahraga
  • Menghormati peraturan permainan dan tradisinya
  • Menghormati lawan bermain
  • Menghormati para ofisial
  • Menghormati kemenangan atau kekalahan

2. Bertanggung jawab - Dalam Kehidupan Sehari-hari
  • Memenuhi kewajiban diri
  • Dapat dipercaya
  • Dapat mengontrol diri sendiri
  • Gigih
Dalam Aktivitas Olahraga
  • Persiapkan diri sendiri untuk menjadi yang terbaik
  • Tepat waktu saat berlatih dan bermain
  • Disiplin diri
  • Dapat bekerja sama dengan kawan setim
3. Peduli - Dalam Kehidupan Sehari-hari
  • Menghibur orang lain dan berempati
  • Mudah memberi maaf
  • Murah hati dan sayang (baik hati)
  • Menghindari mementingkan diri sendiri atau licik/nakal
 Dalam Aktivitas Olahraga
  • Bantu kawan setim untuk bermain yang terbaik
  • Mendukung kawan setim saat kacau
  • Murah hati dengan pujian; pelit dengan kritikan
  • Bermain untuk tim, bukan untuk diri sendiri


4.  Jujur - Dalam Kehidupan Sehari-hari
  • Jujur dan terus terang
  • Bertindak dengan ketulusan hati
  • Dapat dipercaya
  • Berani melakukan sesuatu yang benar
Dalam Aktivitas Olahraga
  • Bermain sesuai dengan aturan
  • Setia pada tim
  • Bermain bebas dari obat-obatan
  • Mengakui kesalahan diri sendiri
5.  Adil - Dalam Kehidupan Sehari-hari
  • Mengikuti aturan yang baik
  • Toleransi (lapang dada) dengan orang lain
  • Mau berbagi dengan orang lain
  • Hindari mengambil keuntungan dari orang lain
Dalam Aktivitas Olahraga
  • Perlakukan pemain lain seperti perlakuan orang lain terhadap anda
  • Jujur dengan semua pemain, termasuk pemain yang berbeda sekalipun
  • Beri pemain lain kesempatan
  • Bermain untuk menang dengan mengikuti peraturan


6. Menjadi warga masyarakat yang baik - Dalam Kehidupan Sehari-hari
  • Menaati hukum dan peraturan
  • Terdidik dan menyatakan yang sebenarnya
  • Memberikan sumbangan kepada masyarakat
  • Melindungi orang lain
Dalam Aktivitas Olahraga
  • Menjadi model (contoh) yang baik
  • Berjuang untuk yang terbaik
  • Berikan masukan pada olahraga
  • Mendorong kawan seregu untuk menjadi masyarakat yang baik
Dalam dunia olahraga untuk mencapai prestasi secara maksimal  perlu dikembangkan  budaya sinergis berbagai unsur yang berkarakter, antara lain sinergis dari  lembaga pendidikan (perguruan tinggi), lembaga pemerintahan, stakeholder dan unsur lainnya. Pencapaian prestasi merupakan salah satu  perwujudan  dari  pilar olahraga  prestasi. Tiga pilar olahraga sebagai  penyangga  pencapaian prestasi, kebugaran dan pendidikan anak bangsa yang berkarakter terdiri dari pengembangan olahraga prestasi, olahraga rekreasi dan olahraga pendidikan. Filosofis ilmu padi merupakan salah satu perwujudan pembentukan karakter olahraga dimana semakin tinggi prestasi yang diraih namun tetap menunduk dan tidak sombong dan tetap santun.
Olahraga tidak bisa melepaskan diri dari ikatan moral kemodernan, yang kompleks. Penerimaan eksistensinya secara sosiologis dijamin oleh kemampuannya menyesuaikan diri dengan pasar, atau sebaliknya, pasar yang akan menjadikannya sebagai sasaran ekstensifikasinya. Langkah strategis untuk pengembangan dan penanaman moral serta pembentukan karakter melalui olahraga adalah dengan menjadikan prestasi. Hal ini seiring dengan perkembangan dunia yang semakin kompleks dan syarat akulturasi. Dengan demikian olahraga sangat berpeluang besar di era sekarang dan masa depan.
Sampai saat ini olahraga telah digunakan untuk pembentukan karakter, namun implementasi untuk  hal tersebut  masih kurang optimal dalam  pelaksanaannya. Sehingga pengerjaannya pun menjadi kurang professional. Apabila hal tersebut  dikerjakan dengan  profesional  maka  karakter  pelaku  olahraga Indonesia   akan  muncul  sehingga dapat membentuk karakter dan kepribadian masyarakat yang kuat. Selain itu, olahraga sebagai ikon sebuah negara dapat menjadi sarana untuk sosialisasi dan promosi serta meningkatkan harga diri sebuah negara. Dengan kata lain, semakin tinggi tingkat pencapaian olahraga warga negaranya maka akan semakin tinggi pula prestasi Negara tersebut di mata Negara-negara lain.
Berdasarkan hal tersebut diatas, maka jelaslah bahwa terdapat simbiosis antara olahraga dan pembentukan karakter. Dengan olahraga, maka akan terbentuk manusia yang sehat dan berkarakter kuat serta memiliki jiwa-jiwa fairplay, sportivitas, bertanggung jawab, team work dan menjunjung tinggi nilai nasionalisme. Dan hal-hal tersebut akan saling berkesinambungan untuk membentuk suatu Negara yang kuat dengan masyarakat sehat dan berkarakter kuat pula.



 KESIMPULAN

Olahraga merupakan salah satu alternatif yang dapat digunakan sebagai alat pembentukan karakter manusia. Dalam olahraga khususnya Sport  for all   merupakan Langkah awal yang strategis menuju pembentukan karakter. Pembentukan karakter selain dilandasi oleh budaya nasional juga diwarnai oleh budaya dan ciri khusus cabang olahraga yang digelutinya. karena didalam setiap cabang olahraga selalu menanamkan Jiwa sportivitas, bertanggung jawab, nilai-nilai kejujuran. keuletan, semangat baja, dan pantang menyerah yang sangat sesuai untuk membentuk karakter manusia.



Daftar Pustaka